Masashi Ueda adalahseniman manga/ komik asal Jepang.Saya sangat menyukai karya-karya beliau. Komik-komik beliau rata-rata menceritakan kehidupan sehari-hari masyarakat jepang namun diselingi dengan perbuatan-perbuatan konyol si tokoh utama. Dari beberapa karya beliau saya paling suka kariage Kun. Kariage, tokoh utama manga ini. Nama aslinya adalah Shōta Kariage.
Ia adalah karyawan perusahaan swasta yang bernama PT Honnyara.
Karakternya sangat jahil dan sering menjahili orang-orang di sekitarnya,
mulai dari teman sekantor sampai orang yang tidak dikenalnya sekalipun.
Kamis, 12 Januari 2012
Sofa Bed
Tinggal di rumah yang luasnya tidak seberapa, harus disikapi dengan memilih furniture yang multi fungsi. Sebelum menutuskan untuk tinggal di kotak sabun alias apartemen saya dan Mister Menoadji mulai berangan-angan memiliki barang-barang multifungsi, salah satu dan merupakan satu-satunya barang multi fungsi yang kami miliki adalah sofa bed ini. Selain bisa digunakan untuk duduk santai saat nonton tv, bisa digunakan untuk tidur. Kalo mau tiduran, untuk ukuran badan saya maupun badan Mister Menoadji sebenernya waktu wujudnya masih sifa pun muat, tapi kalo mau gegoleran berdua di depan tv yaaa harus di buka dulu.
Picasa 3.9
Dari dulu tertarik sama edit mengedit foto, tadi iseng-iseng download Picasa3 , otak-atik beberapa foto dan jreng..jeng..jeng inilah hasilnya........
Place what I called "Rumah"
Malu banget waktu nulis judul diatas, karena saya tidak tinggal di tempat yang "belum bisa" disebut rumah. rumah dalam definisi otak saya adalah bangunan yang berdiri/menempel langsung diatas tanah, berhalaman dan ada tanaman atau pohon rindang di depannya. Saat ini saya dan Mister Menoadji tinggal (baca: sewa) di Apartemen "Kotak Sabun" di daerah kalibata. Walaupun tinggal di Kotak Sabun berukuran kurang lebih tiga puluh meter persegi, sudah sepantasnyalah saya mengucap "alhamdulillah".Karena walaupun sempit tapi telah melindungi kami dari hujan dan panas.
Beberapa pertimbangan kami akhirnya tinggal disini adalah (baca: agak ) dekat dengan lokasi kami bekerja, dekat dengan stasiun (kereta adalah transportasi umum andalan Mister Menoadji), angkutan umumnya mudah (terutama ke kantor saya). Kekurangannya adalah selain luasnya yang tidak seberapa adalah saya tidak bisa mencium bau hujan (kesukaan saya dari kecil adalah memandang hujan dari jendela rumah dan mencium bau ttanah setelah hujan reda). Saya tinggal di lantai 6 (yang pada kenyataannya adalah lantai 5, si pembuat gedung penganut paham anti angka 4,13 dan 14) dimana bahkan suara hujanpun kadang terdengar samar. Pernah suatu kali hujan turun cukup deras hingga air hujan seperti mengetuk kaca jendela kami, dan dengan bodohnya saya menyangka ada orang iseng mengetuk jendela saya dari luar, saat itu Mister Menoadji hanya menanggapi enteng "Siapa yang iseng manjat 6 lantai buat ngetuk jendela"........
Semenjak tinggal di tempat ini, saya belajar untuk berbicara dengan lemah lembut (hoeeek ) dan mengecilkan volume suara saya, karena suara tetesan keran tetangga yang berjarak 6 unit dari unit kami pun terdengar (lebaay).
Selain itu, di tempat ini juga tidak bisa sering-sering bereksperimen mencoba masakan ini dan itu (sungguh beruntung saya yang tidak hobby memasak, terima kasih ya Allah) jangankan memasak yang berbau menyengat, goreng telor aja baunya menyebar ke seluruh penjuru. Beberapa waktu yang lalu ketika papa mengunjungi kami, Mister Menoadji semangat ingin menghidangkan sambal terasi kesukaan papa, saat itu papa belum tiba di kediaman kami, ternyata papa nyasar dan tebak....papa berhasil menemukan yang mana unit kami dari bau terasi, kata papa bau terasin ya menyebar sampai lantai di bawah.
Rabu, 11 Januari 2012
From NY to Jakarta
Tidak terasa November 2011 kemaren genap tiga tahun saya tinggal di Jakarta (Kalo ada yang nanya kenapa nulisnya baru sekarang.....karena saya MA to the LES). Sebenernya tinggal terus menerus or we can call me as permanent resident since November 2009 (walaupun secara hukum KTP saya masih NgaYogyokarto) tapi saya hitung sejak November 2008 ketika melakukan penelitian untuk tugas akhir saya di kampus.
November 2008- Maret 2009
Pertama kali pergi ke Jakarta seorang diri (catet: seorang diri). Sebelumnya saya jarang sekali bepergian ke luar kota seorang diri menggunakan alat transportasi publik dan saat itu demi penelitian saya naik Kereta e Taksaka siang dari Stasiun Tugu-Jatinegara.
Maret-Mei 2009
Kembali ke Jogja untuk bertapa menyelesaikan tugas akhir saya di kampus. Alhamdulilah semuanya dimudahkan, Mei saya dinyatakan lulus.
Juni 2009
Back to Jakarta bersama teman saya Siska "Hot" dan menjalani tes ini dan itu di Depok
Juli-Oktober 2009
Bolak-balik Jogja-Jakarta
Oktober 2009-Desember 2009
Tinggal di Rawamangun,Jakarta Timur, berteman akrab dengan Transjakarta Koridor IV, Bis Mayasari Bakti 57 Pulogadung-Blok M, Patas AC 16 Lebak Bulus-Rawamangun, Metromini 47 Senen-Pondok Kopi, Metro Mini 03 Senen- Rawamangun daaaan ehem...ehem mulai dekat dengan Mister Menoadji.
Januari 2010- September 2011
I moved to Jalan Setiabudi III/No 7, kelurahan Setiabudi, Kecamatan Setiabudi Jakarta Selatan. Setiap memandang keluar jendela kamar terlihat lampu-lampu di Indofood Tower, BNI tower, Wisma Indocement masih menyala. Sampai sekarang terkadang masih suka kangen sama almrh Eyang Adi (eyang kos) yang selalu dipamitin kalo mau berangkat kantor.
Oktober 2011
Start a new life with Mister Menoadji and moved to Tower Damar Apartement Kalibata City South Jakarta.
November 2008- Maret 2009
Pertama kali pergi ke Jakarta seorang diri (catet: seorang diri). Sebelumnya saya jarang sekali bepergian ke luar kota seorang diri menggunakan alat transportasi publik dan saat itu demi penelitian saya naik Kereta e Taksaka siang dari Stasiun Tugu-Jatinegara.
Maret-Mei 2009
Kembali ke Jogja untuk bertapa menyelesaikan tugas akhir saya di kampus. Alhamdulilah semuanya dimudahkan, Mei saya dinyatakan lulus.
Juni 2009
Back to Jakarta bersama teman saya Siska "Hot" dan menjalani tes ini dan itu di Depok
Juli-Oktober 2009
Bolak-balik Jogja-Jakarta
Oktober 2009-Desember 2009
Tinggal di Rawamangun,Jakarta Timur, berteman akrab dengan Transjakarta Koridor IV, Bis Mayasari Bakti 57 Pulogadung-Blok M, Patas AC 16 Lebak Bulus-Rawamangun, Metromini 47 Senen-Pondok Kopi, Metro Mini 03 Senen- Rawamangun daaaan ehem...ehem mulai dekat dengan Mister Menoadji.
Januari 2010- September 2011
I moved to Jalan Setiabudi III/No 7, kelurahan Setiabudi, Kecamatan Setiabudi Jakarta Selatan. Setiap memandang keluar jendela kamar terlihat lampu-lampu di Indofood Tower, BNI tower, Wisma Indocement masih menyala. Sampai sekarang terkadang masih suka kangen sama almrh Eyang Adi (eyang kos) yang selalu dipamitin kalo mau berangkat kantor.
Oktober 2011
Start a new life with Mister Menoadji and moved to Tower Damar Apartement Kalibata City South Jakarta.
Selasa, 10 Januari 2012
Wedding: Edna
Dulu waktu masih kecil sampai kira-kira jaman SMA, gw jarang menghadiri pesta pernikahan, bukan karena ga suka tapi lebih karena gak pernah diundang.Undangan kawinan yang gw terima pertama kali dari temen SMP dan kuliah gw mila waktu gw semester 2. Rasanya aneh ya ngeliat nama kita ada di depan undangan pernikahan "Kepada Yth. Rosiana Athiah Damaiyanti".......aneh booook rasanya.
Beberapa waktu yang lalu temen gw edna menikah, review acaranya bisa dibaca di sini.
Pagi-pagi udah niat bawa si canon buat sok-sok candid si penganten, tapi apa daya karena buru-buru kameranya malah ketinggalan, yasuuudahlah tak ada taksi bajaj pun jadi. jadilah gw pake kamera henpon yang buluk bin busuk hasilnya eng...ing eng...druung duuung dung......
Beberapa waktu yang lalu temen gw edna menikah, review acaranya bisa dibaca di sini.
Pagi-pagi udah niat bawa si canon buat sok-sok candid si penganten, tapi apa daya karena buru-buru kameranya malah ketinggalan, yasuuudahlah tak ada taksi bajaj pun jadi. jadilah gw pake kamera henpon yang buluk bin busuk hasilnya eng...ing eng...druung duuung dung......
![]() |
| foto prewed penganten |
![]() |
| foto prewed penganten |
![]() |
| terharu sebelum ijab-qobul |
![]() |
| senyum2 setelah SAH |
![]() |
| biru yang unyuuu |
![]() | ||
| menebarkan senyum tapi dalam hati " ini siger gw miring gak yak?" |
Beda Perempuan Jepang dan Perempuan Indonesia
As usual kalo pagi-pagi sebelum start to work, nyalain PC-open mozilla firefox-browsing2- dan nemu artikel ini (teruus lupa waktu dan lupa kerja...hehehe) cekodoooot:
Beda Perempuan Jepang dan Perempuan Indonesia
Sesuai judulnya, fokus dari tulisan ini
adalah bahasan mengenai perbedaan antara perempuan Jepang dan perempuan
Indonesia. Tentu ada banyak perbedaan di antara keduanya. Dan dari
sekian banyak perbedaan itu, tulisan ini mencoba mengulas perbedaan
antara perempuan Jepang dan Indonesia dalam hal menikah dan memiliki
anak.
Perbedaan antara perempuan Jepang dan Indonesia
dalam hal menikah dan memiliki anak tentu tidak lepas dari pengaruh
posisi kedua negara, yang satu sebagai negara maju (Jepang) dan satunya
lagi sebagai negara berkembang atau dunia ketiga (Indonesia). Secara
rata-rata, perempuan Jepang sudah pasti well educated jika
dibandingkan dengan perempuan Indonesia. Dan kondisi ini sangat
mempengaruhi perbedaan paradigma atau cara pandang perempuan kedua
negara terhadap yang namanya menikah dan memiliki anak.
Enggan buru-buru menikah
Secara tradisional, umur menikah (marriage age)
perempaun Jepang adalah antara 23-25 tahun. Di Jepang, perempuan yang
belum menikah di atas umur 25 tahun akan mendapat julukan “chrismast cake”,
yakni sebutun untuk kue Natal yang tidak diinginkan lagi oleh siapa pun
setelah 25 Desember. Ini memiliki kemiripan dengan di Indonesia, di
mana wanita yang telah berumur lebih dari 25 tahun dan belum kunjung
menikah juga dianggap telat menikah. Dan seringkali menjadi bahan
pergunjingan di keluarga dan lingkungan kerja.
Namun seiring berjalannya waktu, makin banyak
perempuan Jepang menjadi wanita karier. Dan bagi mereka, keputusan untuk
cepat-cepat menikah adalah sesuatu yang menghambat karier. Menikah
dianggap akan membatasi mereka dalam hal karier, karena harus mengurus
suami dan anak. Selain itu, mereka juga memiliki kemapanan dan
kemandirian secara ekonomi sehingga tidak perlu cepat-cepat menikah.
Karenanya, perempuan Jepang, yang umumnya well educated,
memandang menikah sebagai sesuatu yang tidak harus buru-buru
dilakukan. Bahkan, banyak perempuan Jepang lebih memilih untuk hidup
melajang hingga umur yang tidak muda lagi (30-40 tahun) ketimbang
buru-buru menikah. Tidak seperti di Indonesia, pilihan melajang bagi
seorang wanita adalah sesuatu yang tabu dan pastinya akan menjadi bahan
pergunjingan di masyarakat.
Itulah sebab umur kawin pertama (first age marriage)
perempuan Jepang cukup tinggi, di atas 25 tahun. Bandingkan dengan umur
kawin pertama perempuan Indonesia, yang berdasarkan hasil Sensus
Penduduk 2010, sebesar 22 tahun. Hasil sensus pada tahun 2005 di Negara
‘Matahari Terbit’ itu menunjukkan, 32 persen perempuan Jepang masih
lajang di awal umur 30 an. Dan hampir 50 persen perempuan berumur antara
25-29 tahun berstatus belum menikah. Sementara di Indonesia, hasil
Sensus Penduduk 2010 menunjukkan bahwa 74,71 persen perempaun berumur
antara 25-29 tahun berstatus telah menikah, dan 90,39 persen perempuan
berumur antara 30-34 tahun juga berstatus telah menikah.
Enggan memiliki anak
Selain enggan menikah, perempuan Jepang juga enggan
memiliki anak. Bahkan, ada kecenderungan saat ini bahwa
perempuan-perempuan Jepang─yang masih lajang─ lebih memilih untuk
memelihara anjing ketimbang memiliki anak.
Memiliki anak di Jepang adalah sebuah keputusan
yang menuntut konsekwensi ekonomi yang tidak ringan. Biaya untuk
mengurus anak sangat mahal, dan membutuhkan investasi dalam hal
pendidikan dan kesehatan yang tidak murah. Ditambah lagi dengan adanya
kecenderungan bahwa anak-anak yang telah sukses di Jepang justru
menelentarkan orang tuanya ketika memasuki usia senja, sehingga
memunculkan persepsi untuk apa berlelah-lelah memelihara anak kalau toh
nantinya setelah sukses mereka tidak memperhatikan kita.
Konsekwensi dari hal ini sangat jelas, angka
kelahiran di Jepang sangat rendah. Kalau sudah seperti ini pertumbuhan
penduduk bisa negatif─berkurang─dan lambat laun orang Jepang bisa punah
dari muka bumi. Selain itu, struktur penduduk yang kian didominasi oleh
kelompok usia tua akan menambah beban anggaran pemerintah untuk
memberikan jaminan sosial kepada penduduk usia tua, yang tak lagi
produktif secara ekonomi. Tidak heran kalau pemerintah Jepang saat ini
tak henti-hentinya menghimbau rakyatnya untuk menikah dan memiliki anak.
Bagaimana dengan perempuan Indonesia? Di Indonesia
yang terjadi adalah sebaliknya, memiliki anak adalah sesuatu yang begitu
didamba oleh perempuan yang baru saja menikah. Karena dianggap sebagai
tolak ukur bahwa dia adalah seorang perempuan sejati atau ideal. Seperti
halnya telat menikah, tidak memiliki anak adalah aib di Indonesia, dan
bakal menjadi bahan pergunjingan di keluarga, lingkungan kerja, dan
masyarakat.
Konsekwensi berbeda
Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
(SDKI) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2007
menunjukkan perempuan usia subur di Indonesia rata-rata memiliki 2
sampai 3 orang anak. Dan konsekwensi dari hal ini sangat jelas. Kalau
pemerintah Jepang dipusingkan oleh rendahnya angka kelahiran,
pertumbuhan penduduk yang negatif, dan penduduk yang didominasi kelompok
usia tua. Pemerintah Indonesia justru dipusingkan dengan laju
pertumbuhan penduduk yang tinggi─salah satu terpesat di dunia─dan
semkain membengkaknya jumlah penduduk usia muda. Meskipun sebetulnya ini
juga memiliki sisi positif atau keuntungan buat Indonesia.
Hasil Sensus Penduduk 2010 menunjukkan, dalam
sepuluh tahun terakhir penduduk Indonesia tumbuh secara rata-rata 1,49
persen per tahun. Itu artinya, dalam satu tahun secara rata-rata ada
tambahan sekitar 3-4 juta penduduk, atau secara kasar hampir sekitar
10.000 bayi di negeri ini yang lahir setiap harinya. Itulah sebab
pemerintah begitu genjar mengampanyekan slogan ‘dua anak saja sudah cukup’,
dan tak henti-hentinya menghimbau pasangan yang telah menikah untuk ber
KB. Agar negara yang jumlah penduduknya telah menembus 240 juta orang
ini─keempat di dunia─bisa selamat dari ledakan jumlah penduduk.
Sumber tulisan: Marriage in Japan: History, Love,
Arranged Marriges, International Marriages (2) Yahoo.com (3) Badan Pusat
Statistik (BPS)
Langganan:
Postingan (Atom)









